BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Manusia dalam usaha pemenuhan kebutuhan
hidupnya selalu berusaha mencari yang terbaik. Sebagai makhluk sosial, dalam
usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya tadi manusia selalu memerlukan pihak lain.
Seseorang manusai tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kebutuhan
manusia sendiri jika ditinjau dari segi tingkatan kepentingannya dibagi menjadi
kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. [2]
Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang sangat penting bagi orang yang
bersangkutan sehingga baginya kebutuhan ini haruslah dipenuhi paling dulu dan
paling utama. Dahulu kebutuhan primer hanya mencakup sandang, pangan, dan
papan. Namun dewasa ini karena kehidupan yang semakin kompleks maka ditambahkan
pula sebagai kebutuhan primer yaitu kebutuhan akan kesehatan, pendidikan,
hiburan dan lain-lain.
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur
yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis
maupuan psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan
kesehatan. Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow[3]
dalam teori Hirarki. Kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima
kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan
aktualisasi diri (Potter dan Patricia, 1997). Dalam mengaplikasikan kebutuhan
dasar manusia (KDM) yang dapat digunakan untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Beberapa kebutuhan
manusia tertentu lebih mendasar daripada kebutuhan lainnya. Oleh karana itu
beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar
manusia seperti makan ,air, keamanan dan cinta merupakan hal yang penting bagi
manusia. Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar manusia tersebut dapat digunakan
untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia dalam mengaplikasikan
ilmu keperawatan di dunia kesehatan. walaupun setiap orang mempunyai sifat
tambahan, kebutuhan yang unik, setiap orang mempunyai kebutuhan dasar
manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar yang terpenuhi menentukan tingkat
kesehatan dan posisi pada rentang sehat-sakit.
Hirarki kebutuhan dasar
manusia menurut maslow adalah sebuah teori yang dapat
digunakan perawat untuk memahami hunbungan antara kebutuhan dasar
manusia pada saat memberikan perawatan. Menurut teori ini, beberapa
kebutuhan manusia tertentu lebih dari pada kebutuhan lainnya; oleh karena itu,
beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebutuhan yang lain. Misalnya,
orang yang lapar akan lebih mencari makanan daripada melakukan aktivitas untuk
meningkatkan harga diri.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah pengertian KDM ?
2. Apakah hal-hal yang mendasari
pemahaman tentang KDM ?
3. Apakah KDM menurut Abraham
Maslow ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian KDM
2. Mengetahui hal-hal yang
mendasari pemahaman tentang KDM
3. Mengetahui KDM menurut
Abraham Maslow.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
Kebutuhan dasar manusia
adalah hal-hal seperti makanan, air, keamanan dan cinta yang merupakan hal yang
penting untuk bertahan hidup dan kesehatan. Hierarki kebutuhan manusia menurut
Maslow adalah sebuah teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan
antara kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan.
Hierarki kebutuhan
manusia mengatur kebutuhan dasar dalam lima tingkatan prioritas. Tingkatan yang
paling dasar, atau yang pertama meliputi kebutuhan fisiologis seperti: udara,
air dan makanan. Tingkatan yang kedua meliputi kebutuhan keselamatan dan keamanan,
yang melibatkan keamanan fisik dan psikologis. Tingkatan yang ketiga mencakup
kebutuhan cinta dan rasa memiliki, termasuk persahabatan, hubungan sosial dan
cinta seksual. Tingkatan yang keempat meliputi kebutuhan rasa berharga dan
harga diri, yang melibatkan percaya diri, merasa berguna, penerimaan dan
kepuasan diri. Tingkatan yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.
Menurut teori Maslow
seseorang yang seluruh kebutuhannya terpenuhi merupakan orang yang
sehat, dan sesorang dengan satu atau lebih kebutuhan yang tidak terpenuhi
merupakan orang yang berisiko untuk sakit atau mungkin tidak sehat pada satu
atau lebih dimensi manusia.
B.
HAL-HAL YANG MENDASARI PEMAHAMAN KDM
Manusia sebagai bagian
integral yang berintegrasi satu sama lainnya dalam motivasinya memenuhi
kebutuhan dasar (fisiologis, keamanan,kasih sayang, harga diri dan aktualisasi
diri). Setiap kebutuhan manusia merupakan suatu tegangan integral sebagai
akibat dari perubahan dari setiap komponen system. Tekanan tersebut
dimanifestasikan dalam perilakunya untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai
terpenuhinya tingkat kepuasan klien.
Dasar kebutuhan manusia
adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusia bisa mempertahankan hidupnya.
Peran yang utama adalah memenuhi
kebutuhan dasar manusia dan tercapainya suatu kepuasan bagi diri sendiri serta
kliennya, meskipun dalam kenyataannya dapat memenuhi salah satu dari kebutuhan
membawa dampak terhadap perubahan system dalam individu (biologis, intelektual,
emosional, social, spiritual, ekonomi, lingkungan, patologi dan psikopatologi).
C.
KEBUTUHAN
DASAR MANUSIA MENURUT ABRAHAM MASLOW
Dalam tingkah laku manusia, Maslow memiliki
asumsi dasar, bahwa tingkah laku manusia dapat ditelaah melalui
kecenderungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bermakna dan
terpuaskan. Untuk itu Maslow menempatkan motivasi dasar manusia sebagai sentral
teorinya.
Manusia memiliki sifat dasar yang tidak akan
pernah sepenuhnya merasa puas, karena kepuasan bagi manusia bersifat sementara.
Ketika suatu kebutuhan terpuaskan maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih
tinggi nilainya, yang menuntut untuk dipuaskan, begitu pula seterusnya.[4]
Maslow memiliki konsep
fundamental unil dari teorinya, yaitu :
Manusia dimotivasikan oleh
sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak
berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah.
Kebutuhan-kebutuhan itu juga
bersifat psikologis, bukan semata-mata fisiologis. Kebutuhan-kebutuhan itu
merupakan inti kodrat manusia, hanya saja mereka itu lemah, mudah diselewengkan
dan dikuasai proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang keliru.[5]
Kebutuhan dasar tersebut tersusun secara hierarki dalam strata yang bersifat
relatif, yaitu:
1. Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis (Fa’ali/Phsyologic Needs)
2. Kebutuhan akan rasa aman dan
keselamatan ( Safety & Security Needs)
3. Kebutuhan akan rasa cinta dan
memiliki ( Love and Belonging Needs)
4. Kebutuhan akan penghargaan
(Esteen Need)
5. Kebutuhan akan aktualisasi
diri ( Self Actualization Need)
Kebutuhan-kebutuhan ini
senantiasa muncul, meskipun dimungkinkan tidak secara berurutan, Dalam
pengertian, bahwa kebutuhan yang paling dasar akan muncul terlebih dahulu dan
mendesak untuk dipenuhi, dan jika kebutuhan ini sudah terpenuhi akan muncul
kebutuhan berikutnya yang juga menuntut untuk dipenuhi. Namun dimungkinkan ada
sebagian kecil orang yang kebutuhan dasarnya berbeda struktur hierarkinya
disbanding dengan yang lain. Misalnya orang yang memiliki keyakinan tertentu
akan memilih kelaparan dari pada harus menghilangkan keyakinannya. [6]
Seperti kisah Amar bin Yasir yang lebih memilih disiksa oleh kafir Qurais
daripada berpindah keyakinan, karena dia tidak butuh menyembah berhala.
Suatu hal yang perlu
ditegaskan di sini adalah, bahwa pemenuhan-pemenuhan kebutuhan dasar tersebut
tidak hanya bersifat material, namun lebih dari itu adalah bersifat spiritual.
Dengan kata lain, orang yang memiliki kesehatan mental yang prima akan mudah
terpuaskan dari kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut. Karena kebutuhan dasar pada
dasarnyua adalah dimotivasi oleh motif kemunduran (deficiency motivation). Sementara
orang yang sehat secara mental lebih dimotivasi oleh motif perkembangan (growth
motivation). Seorang yang mengalami
penyakit mental akan sulit merasa puas dari kebutuhan dasar, bahkan akan
senantiasa merasa kurang.[7]
1. Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis (Fa’ali/Phsyologic Needs)
Pada
saat ini kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yan paling kuat dan mendasar
diantara yang lain. Dalam hal ini seseorang sangat membutuhkan oksigen untuk
bernapas, air untuk diminum, makanan, papan, sandang, buang hajat kecil maupun
besar, seks, dan fasilitas-fasilitas yang dapat berguna untuk kelangsungan
hidupnya, ini merupakan contoh kebutuhan fisiologis.
Kebutuhan-kebutuhan
ini sifatnya sangat mendesak dan tidak akan menginginkan kebutuhan lain sebelum
kebutuhan dasar ini terpenuhi. Misalnya seseorang yang sedang haus atau lapar,
tidak akan membutuhkan motivasi lain sebelum rasa haus dan laparnya hilang.
Motivasi untuk mendapatkan kebutuhan ini sangatlah kuat sehingga mendorong
individu melakukan kejahatan hanya untuk memenuhi kebutuhan ini.
Maslow
meyakini bahwa kebutuhan ini adalah jalan pertama yang nantinya, bila terpenuhi
akan membawa manusia menuju kebutuhan akan rasa aman.[8]
2. Kebutuhan akan rasa aman dan
keselamatan ( Safety & Security Needs)
Sebenarnya
tidak bisa dipungkiri, pada awalnya mayoritas dari aktivitas kehidupan manusia
ini adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik ini. Segera setelah kebutuhan dasar
terpenuhi, orang mulai ‘cari-cari’. Kebutuhan level kedua, yakni kebutuhan akan
rasa aman dan kepastian (safety and security needs) muncul dan memainkan
peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan, membangun privacy individual
(kebebasan individu), mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau
dana pensiun, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan rasa cinta dan
memiliki ( Love and Belonging Needs)
Ketika
kebutuhan fisik akan makan, papan, sandang berikut kebutuhan keamanan telah
terpenuhi, maka seseorang beralih ke kebutuhan berikutnya yakni kebutuhan untuk
dicintai dan disayangi (love and belonging needs). Dalam hal ini seseorang
mencari dan menginginkan sebuah persahabatan, menjadi bagian dari sebuah
kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti mencari kekasih atau memiliki
anak, itu adalah pengaruh dari munculnya kebutuhan ini setelah kebutuhan dasar
dan rasa aman terpenuhi
4. Kebutuhan akan penghargaan
(Esteen Need)
Level
keempat dalam hirarki adalah kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan (esteem
needs). Maslow membagi level ini lebih lanjut menjadi dua tipe, yakni tipe
bawah dan tipe atas. Tipe bawah meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang
lain, status, perhatian, reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas
terdiri atas penghargaan oleh diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan,
dan kemampuan khusus (spesialisasi). Apa yang membedakan kedua tipe adalah
sumber dari rasa harga diri yang diperoleh. Pada self esteem tipe bawah, rasa
harga diri dan pengakuan diberikan oleh orang lain. Akibatnya rasa harga diri
hanya muncul selama orang lain mengatakan demikian, dan hilang saat orang
mengabaikannya.
Situasi
tersebut tidak akan terjadi pada self esteem tipe atas. Pada tingkat ini
perasaan berharga diperoleh secara mandiri dan tidak tergantung kepada
penilaian orang lain. Dengan lain kata, sekali anda bisa menghargai diri anda
sendiri sebagai apa adanya, anda akan tetap berdiri tegak, madheg pandhito,
bahkan ketika orang lain mencampakkan anda!
5. Kebutuhan akan aktualisasi
diri ( Self Actualization Need)
Ketika
kebutuhan akan penghargaan ini telah terpenuhi, maka kebutuhan lainya yang
sekarang menduduki tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Inilah puncak
sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan. Terdapat
beberapa istilah untuk menggambarkan level ini, antara lain growth motivation,
being needs, dan self actualization.
Maslow
melakukan sebuah studi kualitatif dengan metode analisis biografi guna mendapat
gambaran jelas mengenai aktualisasi diri. Dia menganalisis riwayat hidup,
karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria
sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah
Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dam Eleanor Roosevelt.[9]
Hasil
Penelitian tentang orang-orang yang mengaktualisasikan diri menyangkal teori Freudian yang menyatakan bahwa
ketidaksadaran manusia semata-mata buruk, jahat, sinting atau berbahaya. Pada
orang-orang yang mengaktualisasikan diri, jiwa bahwa sadar itu bersifat kreatif,
penuh kasih saying, positif dan sehat.[10]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kebutuhan dasar manusia
adalah hal-hal seperti makanan, air, keamanan dan cinta yang merupakan hal yang
penting untuk bertahan hidup dan kesehatan. Hierarki kebutuhan manusia menurut
Maslow adalah sebuah teori yang dapat digunakan untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia.
Manusia sebagai bagian
integral yang berintegrasi satu sama lainnya dalam motivasinya memenuhi
kebutuhan dasar (fisiologis,keamanan,kasih sayang,harga diri dan aktualisasi
diri). Setiap kebutuhan manusia merupakan suatu tegangan integral sebagai
akibat dari perubahan dari setiap komponen sistem. Tekanan tersebut
dimanifestasikan dalam perilakunya untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai
terpenuhinya tingkat kepuasan klien.
Manusia dan kebutuhannya
senantiasa berubah dan berkembang. Jika seseorang sudah bisa memenuhi salah
satu kebutuhannya, dia akan merasa puas dan akan menikmati kesejahteraan serta
bebas untuk berkembang menuju potensi kebutuhan yang lebih besar. Sebaliknya,
jika proses pemenuhan kebutuhan itu terganggu, akan timbul suatu kondisi
patologis.
B. SARAN
Mempelajari
tentang kebutuhan dasar manusia sangat penting untuk diterapkan dalam praktik
keperawatan. Sebagai perawat, kita harus mengetahui kebutuhan dasar dari
pasien, karena ini merupakan hal yang mendasar yang harus dipenuhi. Kita juga
seharusnya bisa memprioritas kebutuhan yang mana harus dipenuhi terlebih dahulu
disamping kebutuhan – kebutuhan dasar lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Nasrul, Erdy. (2000). Pengalaman Puncak Abraham Maslow. Ponorogo:
Center for Islamic and Occidental Studies CIOS-ISID Gontor.
G. Goble, Frank. (1992). Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik
Abraham Maslow, terj The Third Force, The Psycology of Abraham Maslow oleh
Drs. A. Supratiknya. Yogyakarta: kanisius.
Muhammad, Hasyim. (2002). Dialog
antara Tasawuf dan Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Purbacaraka, Purnadi dan A. Ridwan Halim.
(1982). Hak Milik Keadilan dan
Kemakmuran, Suatu Tinjauan Falsafah Hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sumber gambar: biography.com
[2] Purnadi Purbacaraka dan A. Ridwan Halim, Hak Milik Keadilan dan
Kemakmuran, Suatu Tinjauan Falsafah Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1982), hlm. 15-16.
[3] Nama lengkapnya adalah Abraham Harold Maslow, lahir di Brooklyn,
New York pada tanggal 1 April 1908. Maslow memperlajari psikologi saaat
berkuliah di Universitas Winconsin. Maslow memperoleh gelar bachelor pada 1930
dan menjadi pelopor aliran humanistik psikologi pada tahun 1950. Pada tanggal 18 Juli 1966 Maslow meraih
prestasi yang cukup gemilang dengan terpilihnya sebagai Presiden APA (American
Psycology Assosiation) dan Humanist of the Year.
[4] Hasyim Muhammad, Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002). Hlm 70
[5] Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham
Maslow, terj The Third Force, The Psycology of Abraham Maslow oleh Drs. A.
Supratiknya, (Yogyakarta: kanisius, 1992), hal 70
[6] Charles T. Tart, hlm. 2
[7] Hasyim Muhammad, Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), Hlm. 72.
[8] Erdy Nasrul, Pengalaman Puncak Abraham Maslow, (Ponorogo:
Center for Islamic and Occidental Studies CIOS-ISID Gontor, 2000), hlm. 34.
[9] Ibid, hlm. 13
[10] Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham
Maslow, terj The Third Force, The Psycology of Abraham Maslow oleh Drs. A.
Supratiknya, (Yogyakarta: kanisius, 1992), hal 68
Komentar
Posting Komentar